Pil Kontrasepsi Pertama: Antara Revolusi dan Kontroversi
Selain kendala aksesibilitas, faktor yang membuat orang ragu menggunakan pil kontrasepsi di antaranya terkait efek samping. Sejak awal pengembangannya, efek samping penggunaan pil kontrasepsi kerap menjadi permasalahan. Enovid merupakan pil kontrasepsi pertama yang dipasarkan di Amerika Serikat pada tahun 1960 sekaligus menandai titik balik revolusi reproduksi. Namun, pil kontrasepsi pertama yang membawa harapan besar untuk banyak perempuan itu juga datang dengan berbagai risiko. Enovid mengandung 10.000 mcg progestin dan 150 mcg estrogen. Level hormon tersebut sangat jauh perbandingannya dengan pil kontrasepsi yang saat ini hanya mengandung 150 mcg progestin dan 50 mcg estrogen. Akibatnya, berbagai efek samping mulai dari pusing, sakit kepala, mual, atau muntah sering terjadi pada para pengguna pil seiring meningkatnya risiko serangan jantung, pembekuan darah, dan stroke. Berdasarkan data-data yang ada, risiko terjadinya efek samping berbahaya dari penggunaan enovid memang sangat minim. Namun, tetap saja efek samping ringan yang terjadi terus-menerus juga membuat banyak pengguna merasa tidak nyaman dengan tubuhnya.
Pil kontrasepsi pertama adalah temuan revolusioner yang membantu perempuan merebut kembali otonomi tubuh serta memegang kendali atas keputusan seksual dan reproduksinya. Namun jika harus memilih antara mengalami kehamilan tidak diinginkan atau menggunakan pil yang membuat tidak nyaman sampai-sampai merasa asing dengan tubuh sendiri, bukankah perempuan pantas mendapatkan pilihan lain yang jauh lebih baik? Otonomi tubuhnya seharusnya membuat perempuan jadi lebih dekat pada kesejahteraan. Sementara efek samping dari penggunaan pil kontrasepsi yang membuat kebanyakan perempuan merasa sakit dan tidak stabil terus-menerus jelas bukan bagian dari kesejahteraan yang diidam-idamkan. Hal itu yang kemudian dipermasalahkan oleh banyak perempuan sehingga pil kontrasepsi pertama menuai banyak kritik, khususnya dari para aktivis feminis.
Butuh waktu hampir satu dekade untuk para ahli menyadari (mengakui) bahwa pil kontrasepsi pertama yang saat itu sempat ada di puncak popularitas memang memiliki efek samping yang mengganggu kesehatan fisik, mental, maupun emosional para penggunanya. Situasi ini akhirnya membuat para ahli kembali ke laboratoriumnya untuk mencari formula pil kontrasepsi baru yang lebih efektif dan minim efek samping. Seiring dengan ide dan pengetahuan yang terus bertumbuh bersama perkembangan zaman, pil kontrasepsi hadir dengan formulasi terbaik di tiap masanya. Kini, ada beberapa pilihan pil kontrasepsi berdasarkan jenis kandungannya sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh para pengguna. Meskipun persoalan efek samping belum sepenuhnya teratasi, namun itu sudah jauh berkurang mengingat level hormon dalam pil kontrasepsi saat ini jauh lebih rendah.
Contragestion? Mifepristone dan Pencegahan Kehamilan Pasca Ovulasi
Selain pil kontrasepsi, muncul pula berbagai pilihan alat kontrasepsi baru termasuk kontrasepsi darurat yang dapat digunakan setelah berhubungan seksual dengan risiko kehamilan. Kontrasepsi darurat terdiri dari pil dengan beberapa pilihan kandungan dan IUD tembaga. Namun melihat dari aksesibilitas, harga, serta cara penggunaannya, hingga saat ini pil kontrasepsi darurat masih jadi pilihan utama. Sayangnya, masalah pil kontrasepsi darurat hampir sama seperti enovid, yaitu kandungan level hormon yang sangat tinggi. Penggunaannya seringkali mempengaruhi kondisi fisik, mental, dan emosional setelah dikonsumsi hingga jangka waktu tertentu saat level hormon dalam tubuh kembali normal. Meskipun kontrasepsi darurat tidak digunakan secara reguler, tetap saja efek samping tersebut akan membuat penggunanya merasa kurang nyaman. Belum lagi, setiap tubuh punya jangka waktu yang berbeda-beda untuk mengembalikan level hormon ke kondisi normal. Lagi-lagi, perempuan dan siapa saja yang punya kapasitas hamil harus kembali memilih antara mengalami kehamilan tidak diinginkan atau mengonsumsi pil yang berdampak pada kenyamanannya.
Setelah sekian dekade berlalu sejak pil kontrasepsi pertama, jika perempuan masih saja terjebak di persimpangan yang sama, bukankah perlu ada upaya lebih jauh agar otonomi tubuh dapat kembali utuh? Seolah berusaha menjawab tantangan dalam pertanyaan tersebut, kabar mengenai hasil pengujian mifepristone sebagai alat kontrasepsi mengawali tahun 2025 dengan harapan baik. Riset terbaru yang dilakukan di Moldova pada Desember lalu menunjukkan bahwa 50 mg mifepristone sangat efektif sebagai kontrasepsi mingguan. Dr. Rebecca Gomperts yang juga seorang aktivis hak kesehatan seksual dan reproduksi menyatakan bahwa dari 2000 siklus hubungan seksual tanpa kondom, hanya ada satu kehamilan terjadi. Selanjutnya juga diketahui bahwa perempuan yang terlibat dalam riset tersebut sudah mengalami kehamilan sebelum penggunaan obat.
Selain itu, uji klinis yang dilakukan di Karolinska Institutet (Stockholm) dan Leiden University Medical Center (LUMC) (Belanda) juga melaporkan hanya 4% dari 550 partisipan yang mengalami efek samping minor. Gomperts menambahkan bahwa metode ini tidak memiliki kontraindikasi maupun efek samping yang berkaitan dengan level hormon estrogen atau progesteron seperti pil kontrasepsi. Selain itu, penggunaan mifepristone sebagai kontrasepsi dapat disesuaikan dengan frekuensi hubungan seksual yang dilakukan. Mifepristone dapat menjadi kontrasepsi mingguan bagi orang-orang yang cukup sering berhubungan seksual, atau berperan seperti kontrasepsi darurat dan bahkan dapat digunakan sebelum hubungan seksual dilakukan.
Ide penggunaan mifepristone sebagai pencegah kehamilan sudah ada sejak tahun 1970. Awalnya, ini diharapkan dapat menjadi kontrasepsi yang digunakan cukup sebulan sekali. Mifepristone dikenal juga dengan nama RU-486, dapat menghambat kerja hormon progesteron yang berperan menjaga ketebalan dinding rahim agar implantasi dapat terjadi dan kehamilan tetap terjaga. Saat digunakan bersama misoprostol untuk self managed abortion, mifepristone dapat meningkatkan efektivitas dan keberhasilan proses aborsi. Selain itu, mifepristone juga efektif untuk menangani miom dan endometriosis. Pada dosis yang lebih tinggi, mifepristone dapat digunakan untuk menangani sindrom Cushing dengan cara menghambat aktivitas kortisol agar kadar gula darah tidak meningkat.
Tahun 1980-an istilah contragestion diperkenalkan merujuk pada cara kerja mifepristone untuk mencegah kehamilan setelah ovulasi terjadi dan selama fase luteal. Jika kontrasepsi adalah pencegahan kehamilan sebelum pembuahan, maka contragestion adalah pencegahan kehamilan yang dilakukan setelah kemungkinan terjadinya pembuahan dan implantasi (setelah ovulasi dan selama fase luteal). Saat ovulasi, sel telur dilepaskan dari ovarium dan setelahnya akan terjadi fase luteal, yaitu fase ketika hormon progesteron berada di level tertinggi untuk menebalkan dinding rahim sehingga memungkinkan adanya implantasi jika sel telur berhasil dibuahi oleh sperma. Kalau proses ini berjalan lancar, maka kehamilan akan terjadi. Intervensi mifepristone selama fase luteal menyebabkan kerja hormon progesteron terganggu, maka dinding rahim tidak akan menebal sebagaimana mestinya sehingga implantasi gagal dan kehamilan tidak terjadi. Temuan ini sekaligus menjawab persoalan kontrasepsi darurat yang hanya efektif jika digunakan sebelum ovulasi terjadi.
Tantangan Pengembangan Kontrasepsi Laki-Laki dan Kesadaran Distribusi Beban Pencegahan Kehamilan
Kebutuhan akan kontrasepsi yang ideal membuatnya terus dikembangkan hingga saat ini ada berbagai metode yang dapat menjadi pilihan. Namun tetap saja variasi pilihan kontrasepsi itu lebih banyak disediakan untuk perempuan ketimbang laki-laki. Secara historis, tujuan awal dari kontrasepsi memang untuk mendukung perempuan serta siapa saja yang bisa mengalami kehamilan untuk mendapatkan kembali otonomi tubuhnya. Itulah yang menyebabkan pengembangan kontrasepsi lebih difokuskan pada kebutuhan tubuh individu yang bisa hamil. Akibatnya, hingga saat ini celah ketimpangan distribusi tanggung jawab pencegahan kehamilan antara kedua jenis kelamin semakin lebar menganga. Namun jika perempuan jadi harus mengambil tanggung jawab lebih besar atau bahkan bertanggung jawab penuh dalam pencegahan kehamilan, bukankah sama saja artinya perempuan tidak benar-benar punya pilihan (untuk menggunakan atau tidak menggunakan kontrasepsi) dan otonomi tubuh yang dijanjikan itu hanya jadi ilusi belaka? Sejak kritik atas enovid mulai bermunculan, para aktivis feminis juga mempertanyakan mengapa penggunaan kontrasepsi harus menjadi tanggung jawab perempuan atau mengapa profesi medis dan industri farmasi dikuasai oleh laki-laki?
Riset dan pengembangan kontrasepsi laki-laki sudah mulai dilakukan sejak tahun 1970, sekitar 50 tahun pasca riset kontrasepsi perempuan pertama kali dilakukan. Namun, hingga saat ini pilihan metode kontrasepsi untuk laki-laki yang aksesibel dan non eksperimental hanya kondom dan vasektomi. Sebenarnya sudah ada banyak metode kontrasepsi laki-laki yang ditemukan aman dan efektif serta berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut, namun ditolak karena persoalan efek samping yang sebenarnya hampir mirip dengan berbagai efek samping dari kontrasepsi hormonal perempuan. Pil untuk menekan ejakulasi pernah dikembangkan sebelum akhirnya mengalami penolakan karena sebagian besar lelaki merasa orgasme tanpa sperma sangat tidak nyaman, bahkan dianggap sama seperti kebiri. Penelitian itu akhirnya dihentikan karena kehilangan pendanaan. Faktanya, tantangan besar dalam riset dan pengembangan kontrasepsi laki-laki bukan soal menemukan metode yang aman dan efektif, tapi mencari metode yang tidak melunturkan ego maskulinitas mereka yang sangat rapuh.
Alasan lain yang menyebabkan standar kontrasepsi laki-laki jadi sangat tinggi adalah karena mereka tidak akan terdampak oleh kehamilan tidak direncanakan, sehingga tidak merasa perlu menggunakan kontrasepsi, terutama jika efek samping kontrasepsi tersebut membuat mereka tidak nyaman. Meskipun demikian, sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2004 menunjukkan bahwa 55% laki-laki dari 4 benua berbeda yang terlibat dalam survei menyatakan kesediaan mereka untuk menggunakan kontrasepsi baru. Menariknya, sebagian besar sangat berminat menggunakan kontrasepsi oral yang digunakan secara reguler (sekali per hari). Survei lainnya dilakukan pada 1500 laki-laki di Amerika Serikat berusia 18-44 tahun, 70% menyatakan sangat atau agak tertarik dengan kontrasepsi laki-laki yang baru. Berdasarkan banyak survei lainnya, ketertarikan dan kebutuhan kontrasepsi laki-laki adalah kabar baik yang perlu ditindaklanjuti.
Munculnya isu beban kontrasepsi seiring dengan meluasnya kesadaran mengenai distribusi tanggung jawab pencegahan kehamilan, saat ini beberapa pilihan metode kontrasepsi laki-laki sedang dalam tahap pengembangan dan terus menunjukkan progres yang baik. Ada gel kontrasepsi dengan kandungan 8 mg segesteron asetat dan 74 mg testosteron yang dapat menekan produksi sperma lebih cepat. Cara penggunaannya adalah dengan mengoleskan gel sekali per hari di sepasang tulang belikat. Ada pula kontrasepsi non hormonal dengan metode injeksi seperti ADAM, Plan A (Vasalgel), dan RISUG (Reversible Inhibition of Sperm Under Guidance). Ketiganya adalah kontrasepsi non hormonal menggunakan gel polimer yang diinjeksikan di vas deferens untuk memblokir jalur keluar sperma. Plan A dan RISUG sama-sama membutuhkan pelarut organik menghancurkan gelnya, sementara ADAM berbahan dasar air sehingga dapat luruh sendiri setelah setahun. Pada dasarnya, metode ini seperti vasektomi yang tidak permanen. Uji klinis untuk Plan A direncanakan pada akhir 2024, jika berhasil maka Plan A akan dipasarkan pada tahun 2026. Sementara ADAM sedang dalam fase 3 tahun uji klinis dan diperkirakan akan berakhir pada Juni 2025.
Ke depannya nanti, jika ada lebih banyak pilihan kontrasepsi untuk kedua jenis kelamin maka perempuan seharusnya tidak lagi perlu menanggung beban kontrasepsi. Ovulasi hanya terjadi sekali dalam sebulan, sementara ribuan sperma diproduksi hanya dalam sedetik. Bagaimanapun, kemungkinan seorang perempuan untuk hamil jauh lebih rendah daripada kemungkinan seorang laki-laki untuk menghamili banyak perempuan. Hanya karena kehamilan berkembang di tubuh perempuan, sangat tidak adil rasanya jika tanggung jawab pencegahan kehamilan dilimpahkan lebih banyak pada individu yang hanya punya kemungkinan hamil sekali dalam sebulan. Jika situasi ini terus berlanjut, alih-alih melindungi dan memerdekakan, kontrasepsi malah berpotensi menjadi alat opresi baru atas tubuh perempuan.
Enovid adalah pil kontrasepsi pertama yang jadi temuan penting untuk membantu perempuan kembali mendapatkan kontrol atas kehidupan seksual dan reproduksinya. Namun, dengan segala keterbatasan saat itu, ada banyak hal yang luput dari pertimbangan dan membuat enovid menuai kontroversi yang membalikkan reputasinya. Baca informasi selengkapnya mengenai enovid pada link berikut:
Popular pill with doubtful reputation | Karolinska Institutet
Hasil awal uji klinis mifepristone sebagai kontrasepsi mingguan diumumkan pada tanggal 24 Desember 2024 lalu. Penggunaan 50 mg mifepristone sebagai kontrasepsi terbukti efektif mencegah kehamilan bahkan ketika hubungan seksual dilakukan paska ovulasi. Laporan hasil uji klinis selengkapnya dapat dilihat melalui link berikut:
Contragestion adalah salah satu metode dalam tahap pencegahan kehamilan. Metode ini adalah pencegahan kehamilan yang dilakukan setelah ovulasi terjadi dan uterus memasuki fase luteal dalam siklus menstruasi. Selengkapnya mengenai contragestion dapat dibaca pada link berikut:
Mifepristone atau dikenal dengan RU-486 adalah obat yang disetujui oleh Food and Drug Administration dengan fungsi untuk menghentikan kehamilan dan penanganan sindrom Cushing. Obat ini digunakan bersama misoprostol untuk meningkatkan efektivitasnya dalam menghentikan kehamilan di trimester pertama. Lebih lanjut mengenai mifepristone dapat dibaca di link berikut:
Penelitian lebih lanjut pada mifepristone menunjukkan bahwa obat ini juga efektif untuk penanganan miom dan endometriosis. Laporan penelitian selengkapnya dapat dibaca pada link berikut:
Perkembangan kontrasepsi untuk perempuan hingga saat ini cukup pesat sehingga tersedia banyak pilihan metode. Namun mengapa pilihan kontrasepsi untuk laki-laki masih itu-itu saja? Penelitian untuk kontrasepsi laki-laki sebenarnya telah dilakukan sejak lama, namun masalah efek samping membuat pengembangannya terus menemui hambatan. Padahal, efek samping tersebut tidak jauh berbeda dari yang dirasakan perempuan saat menggunakan kontrasepsi hormonal. Link berikut memuat artikel selengkapnya mengenai perkembangan kontrasepsi laki-laki.
The weird reasons there still isn’t a male contraceptive pill
Berdasarkan penelitian, minat atas kontrasepsi laki-laki sebenarnya cukup tinggi. Melihat hasil penelitian tersebut, penelitian dan pengembangan kontrasepsi laki-laki seharusnya dilakukan lebih serius agar ada lebih banyak pilihan kontrasepsi laki-laki yang dapat digunakan. Hasil penelitian mengenai minat laki-laki untuk menggunakan kontrasepsi serta pengembangannya dapat dilihat melalui link berikut:
Promising results in development of male contraception – ScienceDirect
Saat ini pengembangan gel kontrasepsi non hormonal yang memberikan efek vasektomi sementara menunjukkan hasil yang menjanjikan. Ada beberapa tipe gel kontrasepsi yang sedang dalam tahap uji klinis. Berita selengkapnya dapat diakses pada link berikut:
Male Birth Control Gel: A Potentially Game-Changing Contraceptive
