Global Gag Rule dan Kiat-Kiat Melawan Restriksi Aborsi

8–12 menit

Masih ingat dengan Global Gag Rule?

Situasi HKSR setelah Trump kembali terpilih menjadi presiden sejak akhir 2024 lalu memang kian meresahkan. Kembalinya Trump berarti kembali pula berbagai kebijakan yang mengancam hak atas aborsi, baik di wilayah Amerika Serikat maupun secara global. Salah satu kebijakan yang sejak awal diprediksi akan diterapkan kembali adalah Global Gag Rule, aturan yang melarang promosi, advokasi, dan penyediaan layanan aborsi aman bagi semua organisasi global penerima dana pemerintah Amerika Serikat. Kini prediksi itu benar adanya. Kurang dari seminggu masa pemerintahannya, Trump telah menandatangani perintah untuk menerapkan kembali Global Gag Rule sebagaimana yang ia lakukan pada pemerintahan sebelumnya.

Global Gag Rule adalah kabar buruk bagi semua organisasi dan pejuang HKSR, khususnya yang mengupayakan akses aborsi aman. Namun, berbagai pemberitaan yang muncul untuk mengkritisi langkah Trump yang mencederai HKSR dan hak aborsi sebenarnya jadi penanda yang sangat jelas bahwa perjuangan masih akan terus berlanjut. Penerapan Global Gag Rule pada pemerintahan-pemerintahan perwakilan Partai Republik sebelumnya jadi pengalaman berharga yang dapat membantu untuk menyiapkan upaya-upaya perlawanan yang lain. Sekalipun ini jadi jalan buntu pada akhirnya, selalu ada jalan kembali dan celah-celah lain untuk dijelajahi.

Marie Stopes International (MSI) Reproductive Choices adalah salah satu organisasi yang gencar menyuarakan kecaman atas penerapan kembali Global Gag Rule yang akan melukai hak kesehatan seksual dan reproduksi banyak orang. Direktur senior hubungan eksternal Amerika Serikat di MSI Reproductive Choices, Beth Schlachter menuliskan 5 cara yang dapat dilakukan untuk berkembang di tengah ancaman Global Gag Rule.

1. Tidak Menandatangani Global Gag Rule

MSI Reproductive Choices telah mengambil sikap dan menyatakan tidak akan menandatangani Global Gag Rule yang berakibat hilangnya sumber pendanaan dari Amerika Serikat. Organisasi lain yang masih dapat beroperasi tanpa pendanaan dari Amerika Serikat juga dihimbau untuk mengambil langkah serupa demi melawan upaya pembungkaman yang dilakukan kelompok pro-life melalui Trump dan kebijakannya. Penolakan serupa juga dilakukan oleh International Planned Parenthood Federation (IPPF) melalui pernyataan sikapnya. Atas tindakan  ini, IPPF mengantisipasi akan kehilangan 61 juta USD untuk program yang menyediakan layanan kesehatan seksual dan reproduksi bagi jutaan perempuan dan remaja.

2. Tidak Mengimplementasikan Global Gag Rule Secara Berlebihan

Bagi organisasi yang menandatangani Global Gag Rule, disarankan untuk mencari informasi sejelas-jelasnya mengenai kebijakan ini dan mengimplementasikannya sesuai dengan batasan yang ada. Cobalah untuk tidak terlalu larut dalam ketakutan terbatasnya pendanaan agar dapat tetap melihat peluang-peluang kerjasama untuk saling mendukung dalam pemenuhan HKSR. Di tengah kekacauan ini, penting untuk tetap melihat segala hal dengan jernih agar langkah-langkah yang diambil tidak kemudian memberikan kekuatan berlebihan pada kebijakan tersebut.

3. Membangun Ekosistem Pro-Choice yang Lebih Kuat

Di tengah gempuran terhadap hak atas aborsi dan menguatnya dukungan serta sumber daya untuk kelompok pro-life, hal yang paling dikhawatirkan adalah tersingkirnya isu aborsi dari perbincangan. Demi mencegah hal itu, penting untuk terus membangun solidaritas dan menggalang dukungan yang lebih masif. Isu aborsi hingga saat ini telah mendapatkan perhatian besar di ranah global dan itu perlu terus dipertahankan, bahkan terus disebarluaskan agar layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang komprehensif dapat diwujudkan.

4. Diversifikasi Pendanaan

Belajar dari dampak buruk Global Gag Rule yang telah diterapkan di pemerintahan Trump sebelumnya, penting untuk mulai memiliki jaringan donor yang luas dan memutus ketergantungan pendanaan dari Amerika Serikat. Bahkan jika memungkinkan, organisasi HKSR perlu mulai membangun basis pendanaannya sendiri. Upaya-upaya ini harus dilakukan agar dapat bertahan di tengah guncangan pendanaan dan tidak terjebak dalam berbagai agenda yang mempromosikan tindakan anti hak asasi manusia. Layanan kesehatan seksual dan reproduksi tidak boleh dipaksa tunduk demi kepentingan politik Amerika Serikat.

5. Penguatan Advokasi Lokal

Mendorong keterlibatan masyarakat dalam advokasi HKSR di wilayahnya masing-masing merupakan jalan lain untuk melawan ketergantungan pada pemerintah Amerika Serikat yang kian gencar menyerang hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi. Penguatan advokasi lokal dapat membuka peluang lebih besar untuk mendorong kebijakan progresif serta mempertahankan layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang menjadi milik wilayah masing-masing.

Sebelumnya telah dikatakan ini bukan kali pertama Global Gag Rule diterapkan dan Trump bukan satu-satunya presiden yang pro terhadap kebijakan tersebut. Sejak pertama kali diberlakukan oleh Ronald Reagan pada tahun 1984, Global Gag Rule menjadi permainan tarik-ulur politik yang akan selalu dibatalkan oleh perwakilan Partai Demokrat, untuk dikembalikan lagi ketika perwakilan Partai Republik menjabat. Saat penerapan Global Gag Rule di bawah pemerintahan presiden George W. Bush, berkurangnya akses terhadap kontrasepsi menyebabkan lebih banyak kehamilan yang tidak diinginkan dan peningkatan angka aborsi di Afrika Sub-Sahara.

Global Gag Rule menyebabkan kesenjangan pendanaan yang berujung pada tertutupnya akses layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang seringkali jadi satu-satunya layanan yang dimiliki oleh komunitas masyarakat. Global Fund for Women adalah salah satu organisasi pemberi dana yang berkomitmen untuk menutup kesenjangan akibat Global Gag Rule. Leila Hessini yang merupakan wakil presiden program di Global Fund for Women memaparkan hasil diskusinya dengan para mitra dan penerima hibah mereka. Berikut 4 strategi untuk memitigasi dampak dari Global Gag Rule dan aturan pendanaan restriktif lainnya.

1. Mendokumentasikan Dampak dan Mengadvokasikannya

Dampak Global Gag Rule perlu didokumentasikan dan disebarluaskan mulai dari tingkat lokal, nasional, hingga internasional. Penyebarluasan informasi mengenai dampak Global Gag Rule mencakup pembahasan mengenai kebutuhan mendasar terhadap program kesehatan seksual dan reproduksi yang dihambat oleh aturan tersebut. Dalam situasi ini, advokasi tetap perlu dilanjutkan. Center of Reproductive Rights telah mempublikasikan tulisan mengenai dampak Global Gag Rule sejak pertama kali diterapkan pada masa pemerintahan Ronald Reagan tahun 1984 lalu. Sementara MSI Reproductive Choice juga telah merilis dokumen advokasi serupa yang memaparkan dampak Global Gag Rule terhadap pelayanan kesehatan di garis depan.

2. Mengalihkan Pendanaan Lokal dan Mengurangi Ketergantungan pada INGOs

Global Gag Rule menyasar organisasi non-pemerintah internasional yang mendukung upaya pemenuhan HKSR dan memutus pendanaannya. Namun, anggaran nasional dan regional negara masing-masih masih dapat dimanfaatkan. Beberapa organisasi terlibat aktif dalam advokasi anggaran nasional dan regional untuk menuntut keterlibatan negara dalam menghadapi situasi ini. Dengan mengurangi ketergantungan pada organisasi non-pemerintah internasional dan beralih pada pendanaan lokal, maka masalah keterbatasan dana sangat mungkin untuk diatasi sehingga pengadaan layanan tetap dapat dilakukan.

3. Mendorong Pendanaan dari Pemerintah dan Yayasan Besar untuk Berkontribusi

Merespon Global Gag Rule, beberapa bulan setelah Trump mengumumkan aturan tersebut, Menteri Luar Negeri di Swedia, Denmark, dan Belgia meluncurkan SheDecides, sebuah gerakan untuk melindungi hak, kesehatan, keselamatan, dan mata pencaharian anak perempuan dan perempuan di seluruh dunia. Kelompok tersebut aktif mengumpulkan pendanaan dari yayasan dan pemerintah untuk mendukung HKSR dan mempersempit kesenjangan pendanaan akibat Global Gag Rule. Di Kanada, pemerintah mengalihkan dana pembangunan internasional untuk kesetaraan serta pemberdayaan perempuan dan anak. Inisiatif-inisiatif serupa dapat pula didorong di negara agar negara dan yayasan besar dapat memberikan kontribusi dalam mendukung pemenuhan HKSR.

4. Siapkan Alternatif untuk Sumber Informasi, Layanan, dan Perawatan

Alternatif sumber informasi dan layanan dibutuhkan untuk tetap membuka akses aborsi aman sebagai bagian dari layanan kesehatan yang komprehensif bagi masyarakat. Di tengah situasi pendanaan yang buruk, alternatif sumber informasi dan layanan yang sama sekali terlepas dari ketergantungan pendanaan pada Amerika Serikat dapat menjadi bala bantuan besar untuk tetap mempertahankan akses ke layanan kesehatan seksual dan reproduksi.

Berbicara lebih lanjut mengenai alternatif sumber informasi dan layanan, sebenarnya upaya tersebut telah dilakukan sejak lama oleh banyak organisasi dan komunitas. Khususnya informasi dan layanan aborsi, di negara-negara dengan kebijakan aborsi yang restriktif hal tersebut dilakukan secara klandestin demi tetap membuka akses aborsi aman. Kebanyakan layanan berbasis hotline yang memberikan informasi aborsi aman dengan metode medikamentosa (medical abortion). Ada pula komunitas yang memberikan pendampingan langsung dalam proses self managed abortion atau layanan donasi obat. Semua itu adalah layanan alternatif berbasis komunitas yang hingga saat ini masih berjalan dan semakin tersebar luas.

Di negara-negara bagian Amerika Serikat dengan kebijakan aborsi yang lebih longgar, akses ke klinik-klinik aborsi masih memungkinkan. Namun di bawah pemerintahan Trump ditambah dengan adanya Global Gag Rule, akses tersebut bukannya tidak terdampak sama sekali.  Oleh karena itu strategi yang efektif sangat diperlukan untuk memperluas layanan agar akses aborsi dapat dipertahankan. Belakangan, upaya terbaru yang dilakukan di Washington adalah dengan mulai memberi izin pada para apoteker untuk meresepkan pil aborsi. Upaya ini adalah percontohan yang diharapkan dapat meluas ke negara-negara bagian lain di mana akses aborsi masih legal. Meskipun langkah ini ditentang keras oleh pihak anti aborsi yang menganggap apoteker tidak memiliki kompetensi meresepkan obat aborsi karena tidak mendapatkan pelatihan klinis, namun upaya ini tetap mendapatkan dukungan dari banyak pihak.

Pada akhirnya, memiliki pengetahuan dan kesadaran mengenai dampak Global Gag Rule yang memberikan pukulan keras terhadap upaya-upaya pemenuhan HKSR adalah satu hal. Namun, merawat semangat perlawanan atas berbagai kebijakan restriktif yang merampas hak-hak individu untuk mendapatkan layanan kesehatan seksual dan reproduksi adalah hal yang saat ini paling dibutuhkan untuk terus bertahan. Segala pencapaian dalam beberapa dekade terakhir tak boleh dinihilkan begitu saja karena persoalan aliran dana. Seperti perlawanan yang sudah-sudah, kerja dan upaya pemenuhan HKSR akan terus menemukan cara untuk tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Global Gag Rule menjadi ancaman nyata untuk keberlangsungan upaya pemenuhan HKSR. Namun, bukan berarti tidak ada upaya yang dapat dilakukan untuk setidaknya bertahan di tengah situasi ini. Beth Schlachter dari Marie Stopes International (MSI) Reproductive Choices menuliskan 5 cara untuk menghadapi Global Gag Rule. Selengkapnya dapat dibaca pada link berikut.

5 ways to thrive despite Trump’s anti-abortion global gag rule – MSI Reproductive Choices

IPPF merilis pernyataan sikap yang berisi penolakan tegas untuk menandatangani Global Gag Rule. Menurut IPPF, Global Gag Rule bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar mereka dan IPPF menyatakan tidak akan pernah mendukung kebijakan yang secara aktif membatasi atau melanggar hak individu atas otonomi tubuh, termasuk hak atas aborsi yang aman. Tindakan itu akan mengakibatkan kerugian finansial yang diperkirakan mencapai 61 juta USD untuk program yang menyediakan layanan kesehatan seksual dan reproduksi bagi jutaan perempuan dan remaja. Baca pernyataan selengkapnya melalui link berikut.

Our Statement on the Reinstatement of the Global Gag Rule

Berefleksi dari pengalaman penerapan Global Gag Rule yang sudah-sudah, Leila Hessini dari Global Fund for Women membuka ruang diskusi dengan para mitra dan penerima hibah untuk merumuskan strategi yang dapat diupayakan dalam melawan atau memitigasi dampak Global Gag Rule kali ini. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui link berikut.

Women’s Groups and Funders Respond to Global Gag Rule (SSIR)

Global Gag Rule yang resmi diterapkan kembali oleh Trump pada tanggal 24 Januari lalu (kurang dari seminggu menjabat) akan berdampak secara global. Tindakan ini merupakan kemunduran dalam pemenuhan HKSR, serta perjuangan kesetaraan gender dan hak asasi manusia. Sejak pertama kali diterapkan pada masa pemerintahan Ronald Reagan tahun 1984, Global Gag Rule telah menyebabkan banyak hambatan dalam upaya-upaya penyediaan layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang komprehensif sebagaimana yang dipaparkan dalam artikel Center of Reproductive Rights. Baca artikel selengkapnya melalui link berikut.

Trump Administration’s Reinstatement of the Global Gag Rule Is a Setback for Health, Gender Equality and Human Rights

MSI Reproductive Choice telah membuat satu dokumen untuk mengadvokasikan dampak Global Gag Rule terhadap pelayanan kesehatan di garis depan. Dokumen selengkapnya dapat diakses melalui link-link berikut.

Briefing: Impact of the Global Gag Rule on Frontline Reproductive Healthcare

Washington baru-baru ini mulai memberikan izin pada para apoteker untuk meresepkan pil aborsi. Tindakan ini adalah percontohan untuk negara bagian lain dengan aturan aborsi yang lebih longgar sekaligus sebagai upaya perluasan layanan. Meskipun tetap ada kemungkinan upaya ini juga dapat dipukul mundur oleh kebijakan anti aborsi, namun ini merupakan satu langkah progresif yang perlu didukung. Berita selengkapnya dapat dibaca di link berikut.

Abortion Pills Prescribed by Pharmacists Are Newest Effort in Abortion Fight – The New York Times