Narasi heteronormatif telah membuat isu aborsi kerap diposisikan sebagai persoalan perempuan cisgender heteroseksual semata. Akibatnya, gerakan dan dukungan terhadap akses aborsi lebih sering terpusat pada perempuan cisgender heteroseksual, seolah-olah kelompok ini adalah satu-satunya yang terdampak. Padahal dalam diskursus keadilan reproduksi, aborsi saling berkelindan dengan isu keragaman gender dan seksualitas, sebab pengalaman kehamilan dan kebutuhan atas akses aborsi aman juga dirasakan oleh kelompok transmaskulin, non-biner, biseksual, lesbian, dan setiap individu LGBTQ+ yang memiliki kapasitas untuk hamil. Perempuan cisgender heteroseksual maupun kelompok ragam gender dan seksualitas berbagi pengalaman atas penindasan berbasis gender yang merampas otonomi tubuh dan hak untuk memutuskan nasib sendiri, salah satu bentuknya termanifestasi dalam pembatasan akses terhadap layanan aborsi yang aman. Maka dari itu, penting untuk melihat aborsi sebagai isu bersama. Membangun narasi aborsi yang interseksional dan mengupayakan layanan aborsi aman yang inklusif adalah keharusan demi memastikan tidak ada individu yang dilupakan dalam perjuangan keadilan reproduksi.
Individu dari kelompok ragam gender dan seksualitas juga melakukan aborsi, sebagaimana perempuan cisgender heteroseksual. Data-data dalam dokumen lembar fakta LGBTQ+ People & Roe v. Wade yang dirilis oleh Human Rights Campaign (HRC) Foundation tahun 2022 lalu menunjukkan bahwa perempuan lesbian (22,8%) dan biseksual (27,2%) yang pernah hamil lebih mungkin melakukan aborsi dibandingkan perempuan heteroseksual (15,4%) yang pernah hamil. Studi yang dilakukan Moesson et al, 2021 terhadap lebih dari 1694 orang TGE (transgender, non-biner, dan gender ekspansif) dewasa yang ditetapkan sebagai perempuan atau interseks saat lahir, 4% pernah melakukan aborsi, termasuk sepertiga (32%) dari mereka yang pernah hamil. Lebih dari separuh kehamilan tidak diinginkan. Sejalan dengan data-data tersebut, hasil Survei Pasien Aborsi terbaru yang dilakukan Guttmacher pada tahun 2023 juga menemukan bahwa 16% orang yang melakukan aborsi di Amerika Serikat tidak mengidentifikasi diri sebagai perempuan heteroseksual.
Faktanya, aborsi adalah bagian dari layanan kesehatan esensial yang menjadi kebutuhan setiap individu, terlepas apapun ras, kelas, identitas gender, dan orientasi seksualnya. Namun realitanya, sistem layanan kesehatan yang saat ini masih penuh stigma, diskriminasi, dan bias heteronormatif seringkali mengabaikan kebutuhan atas akses aborsi aman, terlebih untuk kelompok ragam gender dan seksualitas. Selain stigma terhadap aborsi, kelompok ragam gender dan seksualitas yang mencari akses aborsi aman juga kerap dihadapkan dengan diskriminasi atas identitas gender dan orientasi seksual. Situasi tersebut menambah lapis hambatan khusus yang hanya akan dialami oleh kelompok ragam gender dan seksualitas dalam mengakses layanan aborsi aman. Ketimpangan ini mencerminkan bagaimana sistem kesehatan masih gagal mengakui kompleksitas identitas dan kebutuhan nyata semua individu. Akibatnya, kelompok ragam gender dan seksualitas tidak hanya kehilangan akses layanan yang vital, tetapi juga mengalami pengingkaran hak asasi yang fundamental.
Masih dalam studi yang dilakukan oleh Moesson et al, 2021, ditemukan bahwa 38% dari TGE yang disurvei menggunakan metode aborsi herbal; 18% mencoba menginduksi aborsi dengan penyalahgunaan zat; 20% mendapatkan informasi mengenai penggunaan vitamin C; dan 25% menggunakan trauma fisik. Dari semua itu, belum ada yang menggunakan metode aborsi medis sebagaimana yang direkomendasikan oleh WHO. Alasan kelompok transgender dan non-biner melakukan aborsi secara mandiri sangat beragam, mulai dari menginginkan privasi, tidak memiliki cakupan asuransi kesehatan, menghadapi pembatasan hukum, diperlakukan buruk oleh penyedia layanan kesehatan, dan biaya prosedur yang tidak terjangkau. Praktik-praktik berisiko ini menunjukkan betapa krusialnya kebutuhan akan akses layanan aborsi yang aman, terjangkau, dan bebas diskriminasi bagi kelompok ragam gender dan seksualitas. Ketidaktersediaan layanan yang inklusif dan ramah justru mendorong pada tindakan berbahaya yang mengancam kesehatan dan keselamatan.
Layanan aborsi yang aman seharusnya tidak hanya dimaknai terbatas pada prosedur yang minim risiko terhadap kesehatan fisik, tapi juga mencakup perawatan yang diberikan dengan penuh penghargaan atas martabat dan pengalaman ketubuhan setiap individu. Dalam konteks ini, penyediaan layanan aborsi aman yang menerapkan prinsip-prinsip gender affirming care menjadi penting untuk memastikan setiap individu mendapatkan layanan kesehatan yang inklusif dan berkualitas, terlepas apapun identitas gender dan orientasi seksualnya. Layanan aborsi aman yang mengafirmasi identitas gender dan orientasi seksual setiap individu tidak hanya memastikan aspek kesehatan fisik terpenuhi, tapi juga memberikan ruang aman secara mental dan emosional dalam keseluruhan proses aborsi yang dilakukan. Dengan demikian, pengalaman aborsi tidak lagi menjadi momok yang menakutkan dan meminimalkan risiko pemicu munculnya disforia gender.
Hak atas aborsi adalah milik semua individu. Oleh karena itu, perjuangan untuk mewujudkan akses aborsi aman seharusnya menjadi gerakan kolektif yang inklusif, saling menguatkan, dan berorientasi pada solidaritas lintas identitas demi tercapainya keadilan reproduksi bagi semua. Pendekatan yang inklusif dalam gerakan keadilan reproduksi tidak hanya memperluas cakupan advokasi, tetapi juga mengakui keberagaman pengalaman yang kerap terpinggirkan dalam narasi arus utama. Penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap kelompok ragam gender dan seksualitas yang membutuhkan akses aborsi harus menjadi bagian integral dari perjuangan ini. Tanpa pengakuan terhadap kompleksitas identitas dan kebutuhan setiap individu yang memiliki kapasitas untuk hamil, wacana dan kebijakan aborsi akan terus bersifat timpang dan eksklusif.
Selamat bulan kebanggaan!
Mari wujudkan akses aborsi yang inklusif, adil, dan setara!
Narasi aborsi yang inklusif menjadi semakin penting untuk melawan stigma dan bias heteronormatif yang selama ini mengabaikan pengalaman kelompok ragam gender dan seksualitas. Aborsi bukan hanya isu perempuan cisgender heteroseksual, tetapi juga kebutuhan kesehatan yang relevan bagi banyak individu LGBTQ+. Selengkapnya dapat dibaca pada link berikut.
Data menunjukkan bahwa perempuan lesbian, biseksual, dan queer lebih rentan mengalami kehamilan tidak diinginkan dan membutuhkan layanan aborsi aman. Namun, diskriminasi dan regulasi yang membatasi akses semakin menempatkan komunitas ini dalam kerentanan berlapis. Informasi lebih lengkap mengenai fakta ini dapat dilihat pada link berikut.
Sekitar 16% orang yang melakukan aborsi di Amerika Serikat mengidentifikasi diri sebagai perempuan non-heteroseksual, menekankan bahwa kebutuhan akses aborsi aman melampaui identitas gender dan orientasi seksual. Temuan ini menegaskan pentingnya layanan aborsi yang inklusif dan bebas diskriminasi. Selengkapnya dapat dibaca pada link berikut.
Banyak individu TGE (transgender, non-biner, dan gender-ekspansif) memilih melakukan aborsi tanpa pengawasan klinis karena buruknya kualitas layanan yang diterima akibat adanya bias, kurangnya kompetensi tenaga kesehatan, dan relasi kuasa. Studi ini menegaskan pentingnya layanan aborsi aman yang afirmatif dan berpusat pada pencari layanan. Baca selengkapnya pada tautan berikut.
Akses aborsi aman bagi kelompok LGBTQ+ perlu disertai dengan pemahaman yang inklusif dan berbasis keadilan. Panduan dan sumber yang menekankan perspektif queer dan trans, seperti yang disediakan oleh WE TESTIFY, menjadi penting untuk mendukung akses aborsi yang aman, terjangkau, dan afirmatif bagi semua identitas gender. Selengkapnya dapat dibaca pada link berikut.
Panduan seperti The Trans Guide to Abortion Care dari Hey Jane memberikan informasi praktis dan afirmatif untuk memastikan pengalaman aborsi aman, mendukung kesehatan fisik, serta menghormati identitas gender dan orientasi seksual setiap individu. Selengkapnya dapat dibaca pada link berikut.
Konsep gender-affirming care menekankan pentingnya menghormati dan mendukung identitas gender setiap orang selama proses aborsi, sekaligus memastikan keselamatan fisik, mental, dan emosional. Penjelasan lebih lengkap mengenai pendekatan ini dapat ditemukan dalam publikasi berikut.
