Akses Aborsi di Asia Tenggara: Negara Menyangkal, Kolektif Mengawal

4–7 menit

Di Asia Tenggara, aborsi masih dianggap tabu. Alih-alih dipahami sebagai bagian dari pilihan reproduksi, aborsi kerap dilihat sebagai kegagalan moral yang harus ditebus. Pandangan ini membuat aborsi tidak diakui sebagai kebutuhan mendesak sehingga pengadaan aksesnya pun kerap diabaikan. Namun di balik stigma dan penghakiman itu, data justru menunjukkan hal sebaliknya. Dalam dua dekade terakhir, angka kehamilan tidak direncanakan di kawasan Asia Tenggara turun 21%, sementara angka aborsi meningkat 21%. Pada periode 2015–2019 terdapat sekitar 20,5 juta kehamilan setiap tahun, sekitar 9,27 juta di antaranya tidak direncanakan dan 5,99 juta berakhir dengan aborsi. Lebih dari sekadar statistik, angka-angka itu memotret realitas yang terus disangkal: bahwa aborsi akan selalu hadir sebagai pilihan dalam situasi kehamilan tidak direncanakan, dan layanan aborsi aman adalah kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi.

Sayangnya, hampir semua negara di Asia Tenggara masih memenjarakan pilihan dengan dalih moral dan hukum, membatasi aborsi hanya pada kondisi darurat medis atau kehamilan akibat perkosaan dan kekerasan seksual. Kebijakan yang seharusnya melindungi justru menjauhkan dari akses—memaksa jutaan orang melakukan segala cara demi mendapatkan hak yang sejak awal adalah milik mereka. Di banyak negara wilayah Asia Tenggara, hukum dan moral berjalan beriringan untuk menekan, menjadikan tubuh yang memiliki rahim kehilangan otonominya. Dalam situasi seperti ini, negara bukan hanya gagal memenuhi tanggung jawabnya atas pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi, tetapi juga turut memperpanjang siklus ketidakadilan yang membuat akses aborsi aman semakin mustahil.

Ketika negara-negara di Asia Tenggara melalui kebijakannya terus menutup akses aborsi aman, berbagai inisiatif bermunculan untuk memastikan layanan tetap bisa dijangkau. Di Kamboja, Marie Stopes International (MSI) meluncurkan layanan telemedisin aborsi medis di Phnom Penh dan Kandal, menyediakan konsultasi daring dan pengiriman obat. Di Thailand, kelompok advokasi Tam Tang membantu menghubungkan perempuan ke klinik yang aman dan layanan jarak jauh. Di Malaysia, RRAAM menjalankan hotline dan merujuk ke klinik ramah perempuan yang menyediakan aborsi aman serta layanan konsultasi. Di Singapura, Lien Clinic for Women menyediakan aborsi legal hingga sekitar 24 minggu di klinik yang disetujui Ministry of Health (MOH) Singapore.

Bersamaan dengan itu, layanan telehealth independen berbasis komunitas seperti Women on Web, Women Help Women, safe2choose, dan Samsara menjadi bagian penting dalam mengupayakan akses aborsi aman. Jangkauan layanan mereka tidak terbatas pada Asia Tenggara, melainkan menjadi bagian dari jaringan global yang memperluas akses terhadap informasi, pendampingan, dan layanan aborsi aman. Layanan daring ini bukan sekadar alternatif bagi mereka yang terhalang oleh jarak, hukum, atau stigma, tetapi juga bagian integral dari ekosistem layanan aborsi aman yang menempatkan otonomi tubuh sebagai prinsip utama. Layanan berbasis telehealth memungkinkan orang yang ingin melakukan aborsi memilih metode yang paling sesuai bagi dirinya, serta menentukan bagaimana proses tersebut akan berlangsung—tanpa intervensi, tekanan, atau penghakiman. Layanan-layanan ini menegaskan bahwa aborsi aman dapat dikelola sendiri—selama orang yang menjalaninya memiliki akses pada informasi, obat, dan pendampingan yang terpercaya.

Di tengah kebijakan yang masih membatasi dan stigma yang terus mengekang, keberadaan berbagai layanan aborsi aman di Asia Tenggara menjadi bukti bahwa solidaritas dan inisiatif kolektif mampu menembus batas hukum dan moral. Baik melalui klinik maupun telehealth, layanan-layanan ini hadir bukan semata untuk menyediakan akses, tetapi juga untuk mengembalikan hak dasar setiap orang atas tubuhnya sendiri. Di balik setiap konsultasi, rujukan, atau paket obat yang dikirimkan, tersimpan pengakuan penting: bahwa keputusan tentang tubuh seharusnya berada di tangan mereka yang menjalaninya. Karena pada akhirnya, menghormati pilihan adalah bentuk paling nyata dari menghormati kehidupan.

Fact sheet terbaru dari Guttmacher Institute menunjukkan gambaran perubahan tren kehamilan tidak direncanakan dan aborsi di Asia dalam 30 tahun terakhir. Data menunjukkan bahwa Asia mengalami penurunan angka kehamilan tidak direncanakan, tetapi tidak semua kawasan mengalami penurunan angka aborsi. Di Asia Tenggara, misalnya, angka aborsi justru meningkat dalam dua dekade terakhir. Temuan ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan layanan aborsi aman tetap ada dan perlu menjadi bagian dari kebijakan kesehatan reproduksi. Baca informasi selengkapnya pada tautan berikut.

Unintended Pregnancy and Abortion in Asia | Guttmacher Institute

Situasi COVID-19 yang mempengaruhi layanan kesehatan tatap muka mendorong Marie Stopes Institute Cambodia meluncurkan layanan telemedisin untuk aborsi medis. Layanan ini menyediakan konsultasi konsultasi untuk aborsi medis, asesmen, pengiriman obat, hingga tindak lanjut secara jarak jauh jika dibutuhkan. Informasi selengkapnya dapat dibaca melalui tautan berikut.

MSI Cambodia Launches Telemedicine Services

Meskipun Thailand telah mereformasi hukum aborsi dan memperluas legalitas layanan, aksesnya masih jauh dari merata. Tam Tang sebagai bagian dari organisasi masyarakat sipil di Thailand berupaya memperluas akses terhadap aborsi aman melalui edukasi, pendampingan, dan jaringan rujukan. Baca perjalanan Tam Tang dalam membuka jalan untuk membantu orang menemukan akses ke layanan aborsi aman melalui tautan berikut.

The Movement: Tam Tang, Forging a Path for Safe Abortion and a Better Life

Reproductive Rights Advocacy Alliance Malaysia (RRAAM) merupakan jaringan advokasi di Malaysia yang berupaya memperluas akses terhadap kesehatan seksual dan reproduksi melalui edukasi, advokasi berbasis bukti, serta layanan konsultasi gratis. Melalui hotline yang dikelola bersama aktivis dan tenaga kesehatan, RRAAM menghubungkan masyarakat dengan informasi mengenai kontrasepsi, layanan aborsi yang aman, dan penyedia layanan yang ramah perempuan. Selengkapnya mengenai RRAAM dapat dibaca melalui tautan berikut.

RRAAM

Samsara adalah organisasi feminis berbasis hak asasi manusia yang mempromosikan serta mendukung akses terhadap pendidikan dan informasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR), termasuk aborsi aman. Samsara berkomitmen untuk meningkatkan kualitas kesehatan seksual dan reproduksi bagi setiap individu melalui pelatihan dan penguatan kapasitas, layanan konseling daring, hingga advokasi kebijakan. Layanan konseling Samsara berlandaskan prinsip empatik, tanpa stigma, terbuka, rahasia, setara, dan inklusif. Kanal informasi mengenai isu HKSR dan aborsi aman yang dikelola Samsara dapat diakses melalui tautan berikut.

Samsara News

Women Help Women (WHW) merupakan organisasi feminis yang menjadi bagian dari jaringan global untuk memperluas akses aborsi aman. Melalui layanan telehealth, pengembangan jejaring aktivis, pendamping, dan komunitas di wilayah, serta inovasi layanan yang berpusat pada kebutuhan pencari layanan, WHW berupaya memastikan setiap orang dapat mengakses informasi, dukungan, dan pil aborsi secara aman. Organisasi ini juga mendorong perubahan cara pandang terhadap aborsi sebagai bagian dari HKSR yang seharusnya mudah diakses, aman, dan bebas stigma. Temukan informasi selengkapnya mengenai WHW melalui tautan.

Women Help Women

Didirikan pada 2015, safe2choose merupakan platform digital global yang menyediakan konseling daring serta rujukan layanan untuk mendukung akses terhadap aborsi aman. Sebagai bagian dari Women First Digital, safe2choose membantu orang di berbagai negara memperoleh informasi yang akurat serta terhubung dengan penyedia layanan kesehatan yang terpercaya. Baca selengkapnya melalui tautan berikut.

safe2choose