Penceritaan Aborsi: Berbagi Pengalaman, Berbagai Pengetahuan, Berbagi Kekuatan

5–8 menit

Dalam beberapa tahun ke belakang, penceritaan pengalaman aborsi berkembang menjadi salah satu strategi yang banyak digunakan dalam gerakan keadilan reproduksi. Melalui pengalaman-pengalaman pribadi, orang-orang berupaya menantang stigma, membangun empati, dan menghadirkan realitas tentang aborsi yang selama ini sering disederhanakan atau disembunyikan. Seiring perkembangan teknologi, praktik ini tidak lagi terbatas pada ruang-ruang aktivisme konvensional, tetapi juga berkembang melalui berbagai media, mulai dari tulisan, media sosial, hingga podcast, yang mempertemukan beragam pengalaman dari berbagai belahan dunia. Praktik tersebut dapat ditemukan, misalnya melalui We Testify, Shout Your Abortion, maupun The Abortion Diary.

Di balik maraknya penceritaan pengalaman aborsi sampai hari ini, muncul pertanyaan: apa tujuan dari praktik ini dan mengapa semakin banyak organisasi maupun individu menyediakan ruang untuk membagikan pengalaman tersebut? Menceritakan pengalaman aborsi menjadi salah satu cara untuk menormalisasinya, menempatkan aborsi sebagai bagian dari pengalaman ketubuhan yang sama dekatnya menstruasi maupun kehamilan. Sejalan dengan itu, praktik ini juga digunakan sebagai salah satu strategi advokasi untuk mendorong perubahan sosial maupun kebijakan. Meski hingga saat ini belum terdapat bukti yang konsisten bahwa penceritaan pengalaman aborsi sebagai strategi tunggal mampu menghasilkan perubahan kebijakan, praktik ini tetap berpotensi memberikan pengaruh yang signifikan ketika dipadukan dengan berbagai strategi advokasi lainnya.

Salah satu contoh awal penggunaan penceritaan pengalaman aborsi sebagai strategi advokasi dilakukan oleh kolektif feminis radikal Redstockings melalui Abortion Speak-Out yang diselenggarakan di New York pada 21 Maret 1969. Aksi ini kemudian menginspirasi penyelenggaraan Abortion Speak-Out di berbagai negara bagian lain di Amerika Serikat dan dapat dikatakan sebagai salah satu tonggak awal penggunaan penceritaan dalam advokasi hak atas aborsi. Sejak saat itu, pengalaman aborsi bukan lagi sekadar cerita, tetapi juga bagian dari pengetahuan yang mampu memperlihatkan dampak nyata dari stigma, kriminalisasi, maupun terbatasnya akses terhadap layanan aborsi.

Berkembangnya berbagai ruang yang mewadahi cerita-cerita tentang pengalaman aborsi menunjukkan bahwa praktik inii telah menjadi bagian penting dalam gerakan keadilan reproduksi. Namun, semakin banyak cerita bukan berarti stigma otomatis berkurang. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah ruang yang tersedia benar-benar memungkinkan orang menceritakan pengalaman mereka apa adanya, atau justru masih mendorong mereka untuk menyampaikan cerita yang dianggap paling dapat diterima? Ketika hanya alasan, emosi, atau pengalaman tertentu yang terus-menerus mendapat tempat, keberagaman pengalaman aborsi justru berisiko kembali menyempit. Padahal, pengalaman yang dipenuhi rasa lega, sedih, bebas, kehilangan, berdaya, penyesalan, atau bahkan campuran dari semuanya tetap sama-sama nyata. Yang dibutuhkan bukanlah cerita yang memenuhi harapan masyarakat maupun gerakan, melainkan ruang yang memungkinkan setiap orang menceritakan pengalaman mereka secara jujur.

Penggunaan narasi atau penceritaan sebagai salah satu strategi advokasi kebijakan kesehatan menjadi fokus kajian dalam penelitian ini. Penyampaian informasi dalam bentuk narasi memang cenderung menarik dan mudah diingat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi berpotensi mempengaruhi beberapa proses dalam kebijakan, seperti meningkatkan perhatian terhadap isu, membangun empati, serta membantu pembuat kebijakan memahami pengalaman kelompok terdampak dan persoalan terasa lebih nyata dibandingkan penggunaan data statistik saja. Meski demikian, belum ada bukti yang cukup kuat bahwa narasi sebagai strategi yang berdiri sendiri dapat secara langsung menghasilkan perubahan kebijakan. Karena itu, narasi perlu dipadukan dengan strategi advokasi lainnya untuk mencapai target perubahan yang diharapkan. Penelitian selengkapnya dapat dibaca melalui tautan berikut.

Using Narratives to Impact Health Policy-Making

Stigma merupakan salah satu hambatan terbesar terhadap akses aborsi aman. Karena itu, berbagai upaya perlu terus dilakukan untuk menguranginya, mulai dari komunikasi publik, pendidikan, pelayanan kesehatan, penelitian, hingga penguatan suara orang-orang yang memiliki pengalaman langsung melalui penceritaan. Dengan membuka ruang bagi pengalaman tersebut melalui penceritaan, masyarakat dapat lebih memahami realitas aborsi, membangun empati, serta menciptakan lingkungan yang lebih mendukung akses terhadap layanan aborsi aman. Mereduksi stigma menjadi salah satu langkah penting dalam mewujudkan akses terhadap layanan aborsi yang aman. Reducing Abortion Stigma mengulas berbagai pendekatan yang telah dikembangkan untuk mencapai tujuan tersebut. Selengkapnya dapat dibaca melalui tautan berikut.

Reducing Abortion Stigma

Tahun 1969, kolektif feminis Redstockings menginisiasi Abortion Speak-Out sebagai ruang untuk menceritakan pengalaman aborsi secara terbuka. Aksi tersebut merupakan bentuk protes dan perlawanan terhadap pemerintah New York yang saat itu mengadakan sesi dengar pendapat terkait aborsi untuk penyusunan regulasi. Namun, alih-alih melibatkan orang-orang yang memiliki pengalaman aborsi, pemerintah New York malah mengundang para dokter laki-laki yang dianggap sebagai tenaga ahli, dan hanya melibatkan satu perempuan yang juga seorang biarawati. Baca informasi selengkapnya melalui tautan berikut.

The 1969 Redstockings Abortion Speakout

Penceritaan pengalaman aborsi menjadi salah satu strategi yang digunakan gerakan keadilan reproduksi untuk melawan stigma dan menormalisasi aborsi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Harapannya, semakin banyak orang yang berani berbagi pengalaman akan membuka jalan menuju masa depan dengan kebebasan reproduksi yang lebih besar. Namun, apakah penceritaan yang selama ini dilakukan benar-benar telah membebaskan pengalaman aborsi dari stigma? Pertanyaan ini mendorong gerakan untuk merefleksikan apakah penceritaan pengalaman aborsi selama ini benar-benar mampu mengajak orang membayangkan masa depan yang lebih adil, atau justru masih terikat pada norma dan stigma lama mengenai perempuan, keibuan, dan aborsi. Selengkapnya dapat dibaca melalui tautan berikut.

People Who Have Abortions Are Our Future: Abortion Storytelling and the Feminist Imaginary

Sejak lama, cerita-cerita tentang pengalaman aborsi sering disederhanakan dalam dua kutub: propaganda berbasis ketakutan atau narasi tentang perempuan yang sepenuhnya berdaya atas pilihannya. Namun, apakah pengalaman aborsi memang harus selalu berada di salah satu kutub tersebut? Di balik kedua narasi itu, ada kompleksitas yang masih jarang mendapat ruang, terutama dalam pengalaman self-managed abortion di wilayah-wilayah dengan akses yang sangat terbatas. Ketakutan saat mencari pil aborsi, kram dan nyeri yang tidak nyaman selama prosesnya, atau emosi yang saling bertumpang tindih antara sedih dan lega, kehilangan dan bebas, semuanya juga merupakan bagian dari pengalaman aborsi yang nyata. Cerita-cerita ini juga bagian dari perlawanan yang perlu mendapat ruang untuk disuarakan. Baca selengkapnya melalui tautan berikut.

Sometimes Messy but Always Ours: The Power of Honest Abortion Storytelling

We Testify menghayati semangat yang sama dengan salah satu tokoh yang menginspirasinya, Frida Kahlo, dalam menjalankan agenda untuk melatih orang-orang yang pernah melakukan aborsi menjadi pencerita sekaligus pemimpin advokasi yang memperjuangkan kebebasan reproduksi melalui pengalaman mereka sendiri. We Testify adalah rumah dan ruang kreatif untuk mengeksplorasi berbagai potensi dan kemungkinan yang dapat dibayangkan oleh para pencerita kisah aborsi. Pada 2024 lalu, We Testify menerbitkan edisi terbaru Saying Abortion Aloud untuk memperingati sepuluh tahun panduan ini. Pertama kali diterbitkan pada 2014 sebagai hasil riset mengenai pengalaman pencerita aborsi ketika membagikan kisah mereka di ruang publik, nilai-nilai yang dikembangkan melalui panduan tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi lahirnya We Testify. Dalam edisi terbarunya, We Testify menawarkan panduan praktis agar para pencerita pengalaman aborsi merasa lebih aman, berdaya, dan didukung ketika memutuskan untuk berbagi cerita mereka. Selengkapnya dapat dibaca dan diunduh melalui dua tautan berikut.

We Testify: Stories
Saying Abortion Aloud

Berawal dari tagar #ShoutYourAbortion pada 2015, gerakan Shout Your Abortion mendorong orang-orang untuk secara terbuka membagikan pengalaman aborsi mereka sebagai upaya menantang stigma dan menormalisasi aborsi. Kini, melalui website dan berbagai kampanye kreatifnya, ribuan cerita telah dihimpun, menunjukkan bahwa tidak ada satu kisah yang dapat mewakili seluruh pengalaman aborsi. Selengkapnya mengenai Shout Your Abortion dan kumpulan cerita pengalaman aborsi yang dibagikan secara sukarela oleh para pencerita dapat diakses melalui dua tautan berikut.

Shout Your Abortion – About Us
Shout Your Abortion – Stories

Dalam perkembangannya, pengalaman aborsi tidak hanya diceritakan melalui tulisan, tetapi juga melalui podcast. Diluncurkan pada 2013, The Abortion Diary adalah podcast yang mendokumentasikan pengalaman aborsi dari berbagai orang dengan latar belakang, konteks, dan emosi yang beragam. Berangkat dari keyakinan bahwa setiap pengalaman layak memiliki ruang, podcast ini mewadahi beragam kisah tentang aborsi yang selama ini mungkin belum dapat disuarakan maupun didengarkan. Kumpulan episode podcast dapat diakses melalui tautan berikut.

The Abortion Diary – All in “Abortion Stories”