Ketika mendengar kata self-care atau perawatan diri banyak orang membayangkan tidur cukup, makan makanan bergizi, atau pergi berlibur. Namun lebih dari itu semua, perawatan diri adalah soal kemampuan untuk mengenali kebutuhan diri, memahami pilihan yang tersedia, dan mengambil keputusan terbaik bagi tubuh, kesehatan, serta kehidupan diri sendiri. Dalam konteks kesehatan seksual dan reproduksi, self-care mencakup berbagai praktik dan keputusan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan seksual dan reproduksi sesuai dengan preferensi serta pilihan yang diambil berdasarkan informasi yang akurat dan memadai.
Sayangnya, begitu banyak stigma yang melekat pada aborsi dan ancaman kriminalisasi seringkali menjadi hambatan untuk mengakses informasi yang akurat hingga pengambilan keputusan yang sesuai dengan kebutuhan diri. Padahal, akses terhadap informasi yang akurat merupakan bagian penting dalam proses pengambilan keputusan. Seseorang hanya dapat merawat dirinya ketika ia memiliki informasi yang memadai untuk memahami pilihan, manfaat, risiko, dan langkah yang paling sesuai dengan kebutuhan serta kondisi dirinya. Dalam situasi inilah aborsi sebagai salah satu bentuk praktik perawatan diri kerap disalahpahami, terlebih saat dilakukan secara mandiri (self-managed abortion).
Self-managed abortion (SMA) pada dasarnya merupakan salah satu prosedur aborsi aman yang dilakukan secara mandiri dengan menggunakan obat, tanpa bergantung pada layanan kesehatan formal. Metode SMA berlandaskan pada prinsip penghormatan atas otonomi tubuh, bahwa setiap orang berdaya untuk mengambil keputusan terbaik atas tubuhnya. Dalam kerangka self-care, SMA memungkinkan orang yang melakukan aborsi memegang kendali penuh atas tiap keputusan dan pengalamannya. Bukan hanya tentang menggunakan obat aborsi di luar fasilitas kesehatan, SMA juga memberi ruang bagi orang yang ingin melakukan aborsi untuk memilih dan memutuskan sendiri bagaimana, di mana, dan dengan siapa proses aborsi akan dilakukan. Melalui SMA, setiap orang bukan hanya melakukan aborsi aman, namun juga mengklaim kembali otonomi tubuhnya sebagai individu yang mampu dan utuh.
Proses aborsi selama ini sangat lekat dengan klinik dan fasilitas kesehatan karena kerap dianggap sebagai prosedur yang rumit, berbahaya, dan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan. Ketika bicara mengenai SMA, banyak yang sulit membayangkan proses aborsi dapat dilakukan secara mandiri di luar klinik atau fasilitas kesehatan. Sementara aborsi di layanan kesehatan kerap memberikan pengalaman tidak menyenangkan hingga kendala aksesibilitas, SMA memungkinkan orang yang melakukan aborsi memilih sendiri tempat yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensinya, serta memastikan tempat tersebut aksesibel baik baik dari sisi fasilitas maupun biaya. Sebagaimana praktik perawatan diri lainnya, SMA juga harus dilakukan di tempat yang aman dan nyaman, bersama orang yang dipercaya.
Meskipun SMA dapat dilakukan secara mandiri, proses ini tidak harus dijalani seorang diri. Sama seperti memilih tempat untuk melakukan aborsi, setiap orang juga dapat menentukan apakah mereka ingin didampingi selama proses berlangsung dan siapa yang paling dipercaya untuk menemani. Banyak orang merasa lebih nyaman ketika ditemani oleh pasangan, teman, keluarga, atau pendamping yang dipercaya. Kehadiran pendamping dapat membantu memenuhi berbagai kebutuhan selama proses berlangsung, termasuk mengenali tanda-tanda komplikasi yang memerlukan pertolongan medis—meskipun komplikasi saat SMA sangat jarang terjadi—serta membantu mengakses layanan kesehatan apabila diperlukan. Selain itu, memiliki orang yang dapat diandalkan untuk memberikan dukungan emosional akan memberikan rasa aman dan ketenangan sehingga proses aborsi dapat dijalani dengan lebih nyaman.
Informasi yang akurat mengenai obat aborsi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari SMA. Dalam kerangka self-care, informasi memungkinkan seseorang memahami pilihan yang tersedia dan mengambil keputusan secara sadar, bukan berdasarkan mitos, stigma, atau ketakutan. Mengetahui jenis obat yang direkomendasikan, dosis, cara penggunaan, hingga sumber memperoleh obat yang terpercaya membantu seseorang menjalani proses dengan lebih aman serta memahami apa yang dapat diharapkan selama proses berlangsung. Informasi tersebut juga membantu membedakan gejala yang normal dengan kondisi yang memerlukan pertolongan medis.
Pada akhirnya, self-managed abortion bukan sekadar melakukan aborsi secara mandiri, namun juga memastikan setiap orang memiliki ruang untuk memahami pilihannya, menentukan bagaimana proses akan dijalani, dan memperoleh informasi serta dukungan yang dibutuhkan tanpa stigma maupun penghakiman. Sebab, inti dari perawatan diri bukanlah melakukan semuanya sendiri, melainkan memiliki kendali atas keputusan yang diambil untuk tubuh, kesehatan, dan kehidupan diri sendiri.
Perawatan diri tidak hanya soal istirahat, olahraga, atau makanan yang baik. Hal paling fundamental dari perawatan diri artinya mengakui dan menghormati kebebasan semua orang untuk mengambil keputusan atas tubuh dengan informasi yang akurat dan memadai, termasuk keputusan untuk melakukan aborsi. Aborsi sebagai praktik perawatan diri adalah bagian dari Hak Asasi Manusia. Baca paparan selengkapnya melalui tautan berikut.
Sekitar tiga perempat aborsi di India dilakukan melalui self-managed abortion (SMA). Namun, penelitian BMJ Global Health menunjukkan bahwa banyak orang masih menghadapi kesenjangan informasi, stigma, dan minimnya dukungan selama menjalani SMA. Temuan ini menegaskan bahwa akses terhadap obat saja tidak cukup. Lingkungan yang mendukung, informasi yang akurat, dan pendampingan tetap menjadi bagian penting dalam memastikan SMA dapat dilakukan secara aman.
The Feminist Self-Help Movement yang berkembang pada awal 1970-an mendorong perempuan untuk mengenali tubuhnya sendiri, berbagi pengetahuan, dan saling mendukung dalam mengakses layanan kesehatan reproduksi. Gerakan ini menjadi salah satu fondasi berkembangnya gagasan self-care dalam kesehatan seksual dan reproduksi. Selengkapnya dapat dibaca melalui tautan berikut.
The Feminist Self-Help Movement Helped Women Seek Reproductive Care | Teen Vogue
Pendampingan aborsi medis berbasis feminis adalah model pendampingan yang dijalankan oleh komunitas melalui penyediaan informasi, dukungan emosional, dan bantuan praktis. Model pendampingan ini menempatkan orang yang melakukan aborsi sebagai pengambil keputusan utama dan telah terbukti menjadi bagian penting dalam mendukung praktik self-managed abortion yang aman.
Self-managed abortion tidak hanya berkaitan dengan penggunaan obat, tetapi juga bagaimana seseorang mempersiapkan ruang, dukungan, dan kebutuhannya selama proses berlangsung. “DIY Doula: Self-Care Before, During, and After Your Abortion” mengajak pembaca melihat aborsi melalui perspektif perawatan diri dengan menempatkan pengalaman, kenyamanan, dan otonomi individu sebagai pusat perhatian.
DIY Doula: Self-Care Before, During, and After Your Abortion
